ERA WESTTERLING

Diera otanomi yang banyak di dengungkan mungkin dapat menjadi jalan yang baik menuju kemakmuran bagi para rakyat miskin kini menjadi bumurang, ibarat pisau yang bermata dua di putar kemana saja masyarakat yang akan mengalami kesengsaraan baik secara ekonomi maupun perasaan.
Pejabat yang tidak punya kepakaan kepada rakyatnya membuat kebijaksanaan yang tidak masuk akal rakyat tapi masukakal buat dia. Rakyat yang masih sangat awam dengan intrik dan trik penguasa berpikir sangat polos dan cendrung pasrah kekuatan untuk memberontak atau protes tentang kebijaksanaan tidak pernah mampu di ungkapkan.
Contoh yang sangat indah adalah kebijaksanaan yang di ambil walikota semua mobil dari luar kota harus masuk terminal, tanpa memikirkan bagaimana trnsportasi angkutan trevel dan bus harus melewati jalan pasir putih yang masih layak untuk jalan perkampungan karma selain belum di aspal juga masih banyak lubangnya jika kemarau sangat berdebu daj jika hujan seperti kubangan kerbau jalan pun melingkar 10 kali lipat jauhnya dengan jalan biasa, semua mengeluh, demon tapi kebijaksanaan jalan terus ibarat angjing menggonggong musafir tetap berlalu ( musafir pekak dan buta kali ya ).mestinya prasarananya dulu yang di perbaiki di aspal dulu jalan pasir putuh dan keterminal baru di buat kebijaksanaan masuk ke terminal kalu gak mau ya di tilang Rp 200 an kabur.
Pedagan pasar dibuatkan pasar megah malah gak ada yang beli, mestinya pedagang di tata tetap ada pedagang tradisional namun di tata dengan baik bibuatkan kios yang standar atau dibuatkan tempat yang jauh panam atau sungai pagar di alihkan semua orang tidak boleh belanja di pasar pusat, kodim, bawah kecuali pasar tradisional ( kalau gitu tambah kejam ya )


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home